Tampilkan postingan dengan label IPS 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPS 4. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2026

Sketsa 4

Eng maju kedepan. Soal-soal kimia seperti bisa cobra yang bisa melumpuhkan tubuh. Ia mematung dan dahinya berkeringat. Lututnya mulai gemetar,lutut sebelahnya mulai goyah. Kapur tulis yang digenggamnya ikut basah. Dua keadaan sedang mengepungnya, soal yang menatapnya tajam, satunya lagi Wajah Pak Taryo yang bisa menghisap kekuatan meninggalkan lara sepanjang masa.

"Dasar goblok, gitu aja nggak bisa, sekarang keliling kelas, bilang aku bodoh."

Eng balik badan menghadap teman-teman. Kapur tulis ikut lunglai. Dan ia mulai mengitari kelas. Bajunya makin basah. "Aku bodoh dan tak akan mengulangi lagi." begitu ucapnya sampai empat kali putaran. Ia duduk dan kelihatan letih. Matanya menunduk ke bawah. Bel sekolah menjerit. Pak Taryo keluar dari ruang kelas. Eng masih menunduk.

"Eng ke kantin yuk?" ajak Bita. Tangan kanannya memegang kipas dan memutarnya berulang kali.

Eng tak menjawab sepatah kata. Tangannya sibuk membersihkan loker mejanya dari kulit kuaci. Eng menatap wajah Bita dengan ujung matanya. "Masih kenyang." "Aku traktir deh?" bujuk Bita.

Eng memasukan kuaci ke dalam kantong plastik dan beranjak dari kursi dan keluar kelas melewati Bita yang mematung.

"Biarin aja Bit, Eng lagi pengin diganggu." Sela Poly,gadis dari Jingkang. Eng mendengar dan menoleh. Dari balik mereka masih saling beradu. Entah apa yang diadu. Eng melipir ke kantin setelah menggulung lengan bajunya. Eng mengambil es mambo dan gorengan dan pergi ke belakang sekolah. duduk di tepi sawah. Melihat petani sedang memanen padi. Burung Bul-Bul terlihat gembira menikmati hasil alam tanpa kena pajak.

Sabtu, 26 September 2026

Sketsa 3

Eng mengusap wajahnya yang tidak berkeringat. Musik kemarau sedang melanda desanya, Kaligondang. Ia duduk di tepi jalan raya-orang menyebutnya PAL, mungkin serapan dari bahasa belanda. Ia keluar dari rumah sekitar pukul 6 pagi, dengan sarapan nasi lauk pisang goreng. Setiap dua tiga langkah hembusan udara keluar dari mulutnya seperti cerutu. Sudah 45 menit Ia duduk setelah beberapa karyawan, kakak kelas sekolah lain, dan teman satu sekolah telah membonceng seorang gadis dengan logo sekolah sama, kaos dalam sudah mulai basah keringat.

Bus Dony Jaya berhenti. Keneknya mendorong tubuh Eng untuk menyempil diantara anak-anak dari sekolah lain. Sebelum naik Eng menyeka peluh di jidatnya. Sekarang pukul 7 pagi, dan ini bus terakhir sekolah. Kenek memukul kaca dengan koin sebanyak tiga kali, bukan untuk memecahkan tetapi memberi kode kepada supir agar lekas melaju.

Ini Bus sering disebut kura-kura tetapi berhati kuda. Meski lambat tetapi tak pernah somong untuk meminta tumpanga. Eng mengikuti nalurinya.

Sampai di kalikajar lengannya menegang. Tiap ingin terpelanting dari besi pegangan bus ini selalu berhenti untuk untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Sampai di bancar Eng turun, sebuah keputusan buruk. Sudah kadung terlambat, jam pertama Ekonomi mungkin ada yang bisa dilakukan, pikiranya.

"Eng kenapa turun?" tanya seorang gadis. Eng menoleh tak memberi jawaban. Wajah Bita memerah dan bus melaju. "Gadis pembohong sok cantik," desisnya. Ia mulai jalan kaki sepanjang trotoar sampai samping sekolah. Ia belok ke arah belakang sekolah. Ada pagar besi tinggi yang membatasi gedung luar dengan sekolah. Ia mengelap telapak tangan yang berkeringat dan mulai merambat pelan samapi ke ata dan meluncur ke bawah dengan loncatan. Wajahnya memucat ketika mulai berjalan ke lorong sekolah. Guru Ekonomi yang gemulai itu baru selesai dari mengajar dan ia bersembunyi di balik sebuah meja dengan taplak menjuntai ke bawah.

Guru ekonomi lewat koridor lain. Eng menyembul perlahan dari balik taplak meja. Ia perlahan berdiri m menghirup nafas lega. Pada detik berikutnya bulu kuduk meremang, hawa dingin menyergap. Ketika menoleh kebelakang, guru BK sedang menatap tajam ke arahnya. Eng meringkuk dan tertawa getir. "Kekantor sekarang!"

🖤🖤🖤

"Mau sampai kapan kamu begini Eng!, terlambat setiap hari?" Tanya Guru BK

Eng tak menjawab sepatah kata. 

"Eng!, mau sampai kapan!" 

"Saya akan perbaiki, saya janji Bu?" 

"Jika seminggu kamu masih terlambat, kamu akan di skors!, sekarang lari keliling lapangan 10 kali." 

🖤🖤🖤

Keringan masih mengucur, seragam basah, Ia kembali ke kantor BK. Ia mengetuk dan masuk. Guru BK menggelengkan kepala sebanyak lima kali, bukan untuk menunjukkan anti feodal tetapi dengan cara apalagi bisa menyadarkan Eng dari sifat pangeran kesiangan, alias tukang telat. 

 "Ambil kartu terlambat dan masuk kelas, guru Kimia sudah masuk." 

Jantungnya mau berhenti. Lututnya gemetar lemes. Keluar dari mulut Buaya masuk ke sarang Singa. 

"Kenapa Bengong Eng, ayo masuk?" 

Eng mengambil kartu terlambat dan berlari menuju kelas. Sampai di sana Guru Kimia sedang mengabsen. Eng mengetuk pintu dan masuk. Masih di dekat pintu. Wajah masam Guru Kimia, rambutnya kriting kayak mie instan. 

"Dari mana Eng!" 

"BK Pak" 

"Terlambat!" 

Eng mengangguk. Sekilas ia menatap ruang kelas. Ada yang menunduk ada yang menatap. Campur aduk. Merasa merasakan ketakutan yang sama. 

"Keluar sana, tak perlu masuk pelajaran!" 

Eng masih masih mematung, tiba-tiba tubuhnya sulit digerakkan. 

"Dasar TOLOL! KELUAR!" suara guru kimia menggelegar. Bahu Eng melorot dan balik badan keluar dari kelas dan duduk di depan kelas. Mendengarkan Guru Kimia melanjutkan pelajaran. Mengeluarkan buku catatan. Menulis apa yang bisa di dengar. Lima belas menit kemudian. Ia mengelus perutnya. Ia menatap jam dinding, pukul 09.20. Ia berdiri merogoh celananya, uang saku masih ada seribu lima ratus. Cukup untuk pulang dan makan siang. 

Dari pinggir jendela Bita menatapnya. Ia mengetuk jendela kaca dengan pulpen Pilot. Eng menatap sekilas lalu memasukkan buku catatan dan pergi ke kantin. 

🖤🖤🖤

"Sarapan apa Eng?, tanya Bu Kantin. 

"Nasi pecel setengah, sambelnya banyakin." 

"Ada salam tuh dari gadis kesepian?" Ledek Bu Kantin. 

"Males Bu?

"Kenapa?

"Males berantem sama yang suka sama dia."

"Tenang aja nanti Ibu bantuin, bantuin doa." 

Ibu kantin tertawa. Renyah kayak kerupuk. Lalu berhenti sangat cepat. Seperti ketawa memiliki durasi. 

Eng makan pecel. Bita tiba-tiba muncul di kantin. Membeli permen, menatap Eng. Eng sibuk dengan makannya. Bita keluar dari kantin. Eng menyeruput teh tawar panas. 

"Dasar kirik busik!" 

"Husshh, nggak baik ngomong begitu. Apa salah dia. Manis orangnya Eng." 

"Manis orangnya, pahit kelakuannya Bu?" 

Ibu kantin tertawa lagi. Lalu berhenti dalam beberapa detik, mingkem lagi. 

Kamis, 17 September 2026

Sketsa 2

Eng duduk termangu di jembatan kali klawing sambil memandangi para pemancing ikan tawes. Mereka duduk-duduk santai di pinggir sungai klawing. Dari atas saja sudah meras ngilu lutut. Tetapi mereka asik sambil merokok dan melontarkan humor sekadar melepas cemas, tak satupun ikan yang belum tertangkap.

Sebuah angkot oren no 2 jurusan Kaligondang berhenti.

"Eng!, nggak pulang?" Tanya Bita. Senyumnya selebar daun kelor. Giginya seputih odol.

Eng menoleh ke arah panggilan lalu kembali memandangi pemancing yang girang menarik ikan tawes dari dalam sungai. Pemandangan itu lebih menyenangkan dibanding suara gadis itu.

"Eng!, masih marah!" teriak Bita dari dalam angkot.

Eng mengarahkan jari telunjuk ke arah pinggir kepala tanpa menoleh sedikitpun. Angkot melaju meninggalkan Eng yang masih sibuk melihat pemancing yang makin sibuk dengan ikan-ikan Tawes yang tertipu dengan umpan busuk yang dibikin tadi malam.

🖤🖤🖤

Eng duduk mencangkung diantara dua dahan buah rambutan. Ibunya di bawah menunggu sambil memungut buah rambutan yang jatuh. 

"Sebelah atas ada?"

"Nggak kelihatan!" 

Eng melempar galah kearah yang aman. Ini kesekian kali ibunya menyuruhnya untuk mengambil sisa buah rambutan yang telah di panen oleh tengkulak tetangganya sendiri. 

"Besok lagi Bu!" 

Eng turun perlahan-lahan. Kakinya gemetar menahan ketinggian. Memeluk batang pohon erat. Sampai di bawah bagian dadanya lecet akibat salah teknik. 

"Bulan puasa ayah pulang nggak?"

"Kita tunggu saja balasan surat dari ayah, sekarang ayah di kebun sayur, ternak ayam lagi sepi."

🖤🖤🖤

Selepas Isya Eng bersama Ima ngobor burung-burung brondol dari sarangnya, tepatnya memisahkan induk dari telur atau anaknya, tetapi jarang terjadi. Jika bunyi anak-anaknya, Ima melepaskan burung itu dan mencari burung lain.

Pukul 21 mereka pulang, besok masuk sekolah. Untuk malam ini tak ada agenda nonton TV di rumah tetangga. Sebagai penggantinya Radio Mini menjadi teman tidur. 

"Masih bersama kami, SBS Radionya Purbalingga. Untuk mengawali perjumpaan kita, kita putarkan lagu yang sedang hits dari  Dewa 19, kangen." 

Penyiar membalik kaset dan terdengar ribut sebentar. Jeda beberapa detik lagu pun mengudara. 

Eng membuka surat dari Kakak Kelas. Lagu habis dan surat selesai dibaca. Pulpen yang telah digenggamnya untuk menuliskan surat balasan urung dilakukan. Tangannya menarik bantal. Lagu berikutnya mengalun indah. Kla Projek membius relung-relung Sukma, suara jernih dari Mas Katon menyanyikan lagu Jogja. 

🖤🖤🖤

Hujan turun deras memberikan ketenangan sendiri. Eng meringkuk diatas kasur. Kamar tidurnya persis di bawah saluran talang air. Jatuhnya hanya dua meter dari bilik bambu yang terkonsep. Bagian itu, ayah memang ahlinya. Suasana jatuh dari atas talang menghantam tanah membuat suasana terasa tidur dibalik air terjun. 

Gelap tapi bisa melihat, mungkin remang tepatnya. Untuk besok hari Jumat, ada eskul Pramuka, sebuah kegiatan yang membuatnya mager. Malam ini ia tidur lebih awal. Sebuah cara untuk melupakan rasa sakit. Berharap besok ada keajaiban. 

Air matanya meleleh sebelum benar-benar terpejam. Wajah nenek hadir begitu saja. Dulu saat SMP ia terbiasa tidur dibelakang punggung nenek dengan aroma tubuh kayu basah. Makan malam yang tak habis, perutnya siap menampung. Ketika terjaga sebentar dari tidur, nenek sedang sholat malam diatas kasur dengan mukena putih. Untuk selanjutnya mimpi memeluknya erat bersamaan dengan wajah nenek yang kerap kali tersenyum. 



Jumat, 08 April 2022

Sketsa 1

Anak Perempuan itu terus saja menempelkan wajahnya ke atas meja, dari pelajaran pertama kimia. Pelajaran yang menyebalkan itu. Kau pasti sepakat kan?, jangan munafik. Ingin saja keluar dari pelajaran itu ketika sepatunya yang sering dipakai tentara terdengar lebih keras langkahnya. Guru Kimia itu sengaja kah. Sekarang bukan saatnya membahas tentang Guru Kimia, yang rambutnya bergelombang, senyumnya meradang. Lebih baik, mari dengarkan anak perempuan yang menunduk terus sepanjang pelajaran. Seakan ia ditinggal kenangan keras itu. Anak lelaki pada waktu itu masih tabu untuk menanyakan apakah ia baik-baik saja, bukan tak mau. Kami tak cukup kosa kata untuk memulai percakapan, atau hanya ini perasaan Eng saja.

Pelajaran kedua juga tak kalah menyebalkan, Fisika. Hari senin memang neraka bagi Eng. Ini salah siapa, tak perlu mengira-ngira. Ini kenyataan yang Eng harus hadapi. Jam kedua ini sedikit melegakan, pengampunya wali kelas Eng sendiri, seperti anak ayam di ampu Elang. Serem juga sih.

"Kau kenapa Bita, sakitkah?" Tanya Ibu Wali Kelas. Ia beranjak dari tempat duduk setelah selesai mengabsen.

Ibu Walikelas mendekati Bita yang kepalanya masih lengket dengan meja. Ia mengelus kepalanya seperti putrinya sendiri, apakah ia betul-betul melakukannya. Mungkin Eng hanya kusut masai saja, hingga ia tak sempat membaca perubahan wali kelas akhir-akhir ini.

Ibu Walikelas mengangguk seperti dokter. Ia memberikan ultimatum. Pelan-pelan ada semacam gelembung di dada ini entah apa rasanya. Segera kalian akan tahu, perasaan macam itu. Dan perempuan macam apa yang akan saksikan nantinya.

"Yang dekat dengan rumahnya," Tanya Wali Kelas.

Tema-teman mulai mendengung seperti truk slender, entah apa yaang mereka rencanakan.

"Eng bu, ia dekat rumahnya dengannya," salah satu temannya mengusulkan. Di susul teman-teman yang lain. Ini mulai mengusik ketenangan di pagi hari. Tetapi menyenangkan, bisa mengantar gadis semanis itu. Walaupun bau keteknya cukup memusingkan kepala, Ups itu dulu ketika di MI, mungkin sekarang ia agak berbeda. Eng tak pernah lagi mencium bau tubuhnya, atau tak ingin melakukannya.

Takdir seolah berkata; kau harus mengantarkan gadis itu. Meski itu bukan pilihan yang mudah, tetapi mungkin kau menginginkannya. Aduh, kok bisa begini. 

Huuuuu, gemuruh suara itu mengadukan perihal-perihal picik sebenarnya, dan Eng tak berani melirik barang sejenak pada teman-teman perempuan, apakah itu semacam pengampunan dan Eng juga tak peduli pada urusan-urusan mereka. 

Eng mengekor di belakang ketika mulai keluar dari kelas, Wali Kelas itu tersenyum. Ini hadiah terbaik dari seorang Wali Kelas, apakah Eng dapat menangkapnya. Mungkin ini  hanya kebetulan, kebetulan di hari selasa pukul 9.14 pagi 2000, ah mestinya tak perlu mengingat-ingat dengan jelas. 

Sepanjang Jalan keduanya terlibat adu mulut hangat, maksudnya pembicaraan. Mereka mesam-mesem pada saat tertentu. Lalu saling pandang beberapa detik, ini menjengkal. Tetapi menyenangkan. 

Ketika mobil angkot oren berhenti dan mereka ingin sama-sama naik. Muncul seorang lelaki berseragam sama dengan yang mereka pakai, mengendarai motor. Ia kakak kelas begitu. Eng sulit mencari kata-kata yang tepat untuk kejadian itu. 

Angkot sudah berhenti. Bita beralih ke kakak kelas dan naik motornya. Meninggalkan Eng yang amat apa ya, sebentar mungkin Cengo, atau apalah. 

Perpisahan yang merobek keakraban mereka sebentar. Lalu Eng naik angkot duduk dipojok, memandangi Bita yang tersenyum duduk membonceng motor dibelakang cowok, lebih merekah dari pada perjalanan tadi. Sejak saat itu, Eng menyebutnya sebagai penjelmaan Kirik Busik, sebua rencana busuk di bawah altar sejarah bodoh sepanjang ingatan.